Cerita

Meminta Hidayah diberikan Bonus Pitak

Hay saya Fidi. Panggil saja Fidi jangan maudy.
Waktu kecil dulu saya sering dilatih bapak saya untuk bisa jadi atlet badminton tapi saya lebih seneng mencari jangkrik bersama teman-teman saya. Bapak saya frustasi sehingga dia tidak stress karena bapak saya orangnya tu gini…. “yawes lah mungkin nanti si fidi jadi peternak jangkrik bukan atlet badminton”.

Terkait ceritera saya tentang hijab dan olah raga, saya tergabung menjadi tim futsal fakultas peternakan saat semester tiga, sama kaya icaq bertepatan dengan awal terbentuknya turnament tim putri di UFL (Unsoed Futsal League). Waktu itu saya belum mengenakan Hijab masih berpenampilan jahiliyah. Sebenarnya keinginan untuk mengenakan hijab sudah sejak awal masuk kuliah dimana sahabat karib bin abdullah (Fina) mengenakan hijab terlebih dahulu. Saya mikir panjang ……… panjang hingga 4 tahun hahahhahaha nggak pake pake hijabnya. Karena setiap saya pake hijab dan ngaca itu semacam ada syaiton yang meneriakkan
“FIDI ! KAMU TUH CANTIK KALO NGGAK PAKE HIJAB, RAMBUT KAMU LURUS TEBAL DAN MERAH KAYA BOLANG YANG SERING MAIN LAYANGAN” ehhhh.
Sehingga, yasudah saya nggak pake pake tu hijab. Hingga suatu hari. Dikarenakan saking seringnya dibisikin setan dan saya merasa sangat jengah! Hingga saat itu saya sedang sholat lalu berdoa
“Ya Allah saya ingin sekali hijrah memakai mukena kemana-mana….”enggak deng doanya kurang lebih yang bener gini …..
“Ya Allah saya ingin sekali hijrah memakai kerudung menjalankan perintahMu dan terhindar dari teriknya sengatan mentari dunia dan api neraka namun setan terus megusikku dan menyuruhku untuk tidak memakai hijab. Saya serahkan segalanya kepada-Mu, atur saja ya Allah tolong bantu saya untuk istiqomah memakai hijab”…. sayangnya saya lupa kapan doa tersebut dipanjatkan.

Hingga suatu hari saya menjadi panitia dan peserta UFL 2016. Saat itu tim saya sudah kalah jadi kewajiban saya tinggal menjalankan acara sebagai panitia saja buka lagi menjadi panitia plus peserta. Waktu itu pertandingan Final FEB dan FH putra alias pertandingan terakhir UFL 2016. Suporter kedua tim sudah memenuhi venue. Yel yel atau jingle atau apalah itu nyanyian nyanyian suporter dibarengin dengan tabuhan drum kentrung kecrik suling (Dangdutan kali ah) sudah riuh terdengar hingga ke pemukiman warga. Ingat sekali malam itu saya mondar mandir sambil bawa kertas revisian skripsi karena keesokan harinya ada jadwal ujian skripsi jam 09.00 pagi !

Pertandingan telah dimulai dan persiapan lainnya yang menjadi tanggung jawab saya sudah selesai dipersiapkan. Sehingga saya bisa curi-curi waktu untuk bisa buka skripsi untuk dipelajari ulang untuk memastikan telah menguasai hasil penelitian serta faktor-faktor dan analisis untuk dipertanggungjawabkan dihadapan Dosen Pembimbing. Hingga saat saya asik membaca BAB IV sambil glosoran dilantai – dibawah sound system dengan dalih
“Ah duduk sini biar nggak kena bola” karena memang permainan saat itu antar pemain nendangnya kenceng banget. Tiba…tiba…
“BUNG !!” “PAK !” “DIARRRR!!”
atau gimana suaranya saya kurang bisa menirukan …. sound system jatuh tepat diubun-ubun kepala saya. Saya sempat mendang kedepan sound system tersebut. Namun nyeri nyut-nyutan sampai kebelet nun saya rasakan kala itu
“Kok ini nyerinya nggak ilang-ilang yha…” kemudian….
“KAK FIDI !!!!!!” Teriak farhan sebagai koordinator divisi acara UFL 2016 sambil memencet ubun-ubun saya yang masih saya pegangin terus menggunakan tangan kanan. serontak saya teriak “FARHAN SAKIIIIIIIT” lalu saya lepaskan tangan kanan yang niatnya ingin ganti tangan kiri. e pas liat tangan kanan saya… jeng … jeng.. BERLUMUR DOSAA , HAH! Berlumur darah segar pekat kental dan ….
“wei mbaknya bocor mbaknya bocoooor” teriakan suporter FEB yang tepat dibelakang TKP.
Darah segar mengucur deras sampai ke baju dan menetes di kertas skripsi. Sebelah saya ada Naon (Nadira oon) dan meta, dimana Naon hanya nyengir ngeri ketakutan dan meta menyerahkan jaket putihnya untuk menahan laju aliran darah dari kepala saya (Jaket Naon atau meta deng lupa). Lalu seingat saya pertandingan sempat terhenti karena tim medis langsung sergap menolong saya. Tim medis menitah saya untuk keluar dari venue dengan menekan pada bagian kepala saya yang luka (bisa bayangin! bagian yang luka dipencet cuyyyyy! pengen nendang mbak mbak medisnya tapi yaudah cuma bisa nyengir)…..
“Pusing nggak mbak pusning nggak?”
“Mual nggak mbak mual?” kata tim medis sambil memberi  tambahan tekanan kekepala saya ditambah dengan beban es batu sekilo hmmmmmm.
“enggak mbak enggak santae aja..” gaya saya tetep cool tapi air mata udah ngalir bersamaan dengan darah wkwkw LEBAY. wes lah gembel abis.
Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit terdekat bersama Danang dan Merry. Sampai di Rumah sakit si Danang parkirin mobilnya dan Merry nggak bisa keluar dari sisi kanan karena mentok tembok, sehingga mau nggak mau saya keluar duluan dengan kepala dibalut perban seperti mumi dan tangan kanan saya memegangi kepada. Saya berjalan sendiri ke kasir. Lalu…. orang-orang yang malam itu berada dirumah sakit-pun kaget. Ada orang kepalanya bocor tapi daftar sendiri, masuk ruang Gawat Darurat sendiri. Saya cari dokter sendiri ke dalam ruang Gawat Darurat atau ruang apa mbuh lupa.
Lalu saya berbaringan relax, rambut saya sudah seperti mandi darah, amis, lengket !. Kemudian dokter memeriksa kepala saya…
“Dibotakin ya rambutnya di area luka” kata dokter sambil ngajak ngobrol ngalor ngidul. tiba-tiba berasa seperti jarum menusuk kulit namun samar-samar……..
“Dok… lagi apa?”
“Lagi jahit kepala adek” jawab dokter dengan nada menenangkan
“Cuma tiga jahitan, berapa senti saja lah” lanjutnya
“Oh oke dok enak kaya dipijetin”
Selesailah si doketer menjahit kepala saya dan saat dijahit ada merry yang nemenin
“Mbak fidi mau liat lukanya nggak?”
“MANA? KAMU FOTO?”
“hehe iya, ini”
“BUSET”
Subhanalloh kecil mungil tidak bernoda tapi nyerinyaaaaaaaaa lalu saya sebarkan foto itu ke teman-teman panitia UFL wkwkkw (nggak deng cuma ke divisi Acara aja sama divisinya merry huft)
Singkat cerita pas di Rumah sakit tersebut, saya seperti dikasih kesadaran
“Oh apa ini ya cara Allah jawab permintaan aku untuk atur supaya saya mengenakan Hijab”.
Setelah seminggu perban diperbolehkan untuk dilepas dan dalam seminggu itu saya menggunakan topi kemana-mana. Ya kadang ada aja teman kampus yang bilang
“Widih anak gawl pake topi” cuma saya balas dengan senyuman manja. Tapi banyak juga yang gemas sehingga ada teman yang dari jauh teriak
“Fidiiiiiii” sambil unyel-unyel kepala saya. Kubalas dengan tendangan maut kalo cowok dan kubalas dengan tetesan air mata kalo cewek… nyeriiiiii oe huhu.

Setalah lukanya mengering, rambut saya tetap botak belum tumbuh. Jadi, saya langsung memutuskan untuk menggunakan Hijab dengan penuh keyakinan! ya walaupun hijabnya cuma ada warna abu-abu hitam dan coklat. Yakali botak yekaaan dan karena sadar jika semua ini cara Allah yang saya minta dalam doa waktu itu. Tapi setelah itu, satu persatu ada aja orang yang kasih hadiah krudung, baju lengan panjang atau dan sejenisnya. Padahal sebelum kerudungan kaya yang mikir juga

“Aduh baju-bajuku masih baju-baju jahiliyah”

walaupun nggak pake baju yang kelihatan udelnya atau ketiaknya…tp ya gitu, dimana kalian istiqomah menjalankan suatu kebajikan maka akan ada jalan. Dan jika memang diri kalian nggak bisa menangani problematika maka bisa diserahkan kepada ALLAH biar Dia yang atur semunya. Tapi sebenernya saya minta Hidayah aja si, PITAKNYA gausah ya Allah. tapi yaudah lah semoga ketidak tumbuhan rambutku pada spot tertentu dikepala ini bisa membayar dosa-dosa selama kurang lebih 21 tahun mempesonakan lelaki-lelaki dengan rambut yang tidak indih ini. HAH ! Kalo belum bisa terus-terusan pake hijab silakan dicoba dan dibiasakan. cheeers

jadi, sedikit quotes dari Suci Mulyanti yang menyampaikan ketika menjemput saya dirumah sakit malam itu, dia adalah teman saya yang ingin berhijab tapi belum cukup keyakinan juga

“Jangan sampai ya Allah gw bocor pala-nya kaya mbak Fidi gara-gara belum juga pake krudung”.

Semoga apa yang saya bagikan bisa diambil hikmahnya yaaaa…bahwa

“Jangan duduk dibawah Sound system saat pertandingan final putra dan kepada peserta futsal jangan saling dorong-dorongan sehingga lawan yang kamu dorong jatuh menimpa sound system dan sound systemnya bikin kepala anak orang pitak, karena sesungguhnya dorong-dorong lawan, tarik baju lawan, sleding lawan atau sleding pacar lawan (eh) itu adalah pelanggaran ! nanti disemprit sama wasit”.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *