Cerita

Bagi Jumoy, Ternyata Jilbab Bukan Halangan.

Isna Fitriani, namun lebih sering disapa Jumoy ini aktif dibidang olahraga tenis, voli, dan futsal saat duduk di bangku SMA. Alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini kemudian aktif dicabang olahraga futsal pada saat kuliah dan fokus membela tim futsal puteri Fakultas Hukum. Usut punya usut, Jumoy punya cerita seru tentang pengalamannya sebagai atlet yang berjilbab, lho!

Jumoy mulai mengenakan jilbab dipertengahan semester kuliah. Pada saat event pertamanya yaitu Unsoed Futsal League (UFL) 2014 ia belum mengenakan jilbabnya di lapangan,  masih lepas jilbab kalo lagi main futsal. Jumoy mengakui bahwa di lingkungannya masih sedikit yang mengenakan jilbab saat futsal. Setelah ia bergabung dengan Tim Futsal Puteri Unsoed dan melewati beberapa turnamen futsal antar fakultas, Jumoy mulai mempertimbangkan untuk memakai jilbab saat futsal. Jumoy mengaku risih kalau lawan jenis mulai membahas ‘Jumoy dilapangan’ yang tidak mengenakan jilbab. Ia memutuskan untuk mengenakan jilbab pada latihan – latihan berikutnya. Selain dari keinginannya sendiri, beberapa faktor lain yang mendorongnya yaitu pemain – pemain dari fakultas lain yang tetap mengenakan jilbab pada saat futsal dan dorongan orang-orang terdekat.

Pengalaman Menarik 

Ada cerita menarik saat pertama kali dia latihan futsal pakai jilbab! Seperti yang kita tau biasanya kalau olahraga dianjurkan menggunakan jilbab bergo gitu ya? jilbab langsungan sebutan umumnya. Nah, itulah yang dikenakan Jumoy saat latihan, sontak teman satu timnya kaget. Jumoy dipanggil ‘buhaji daging’ selama latihan berlangsung, dan katanya selama latihan hari itu  semua orang buyar dan pasti ketawa tiap kali melirik Jumoy dengan jilbab mirip buhaji penjual daging. Mulai saat itu ia selalu memakai jilbab tiap futsal, tapi bukan jilbab ala buhaji gading lagi karena menurut Jumoy menggunakan jilbab segi empat lebih nyaman untuk olahraga. Selain lebih nyaman ternyata juga bikin lebih percaya diri saat bermain “Kalo ngga nyaman kan mainnya jadi ngga bener juga” Sambungnya. Pelan – pelan teman satu timnya mulai mengenakan jilbabnya saat futsal,  Jumoy mengaku senang dengan pengaruh positif yang dibuatnya.

Perbedaan Performa Setalah Memakai Hijab

Ditanya tentang pengaruh menggunakan jilbab dengan kemampuan bermain, Jumoy merasa tidak ada penurunan perfoma. “Sama ajasih, ngga ada pengaruhnya,” Kata Jumoy. Perubahan mengenakan jilbab tidak lantas berpengaruh dengan permainan futsalnya dilapangan, dibuktikan dengan pencapaian tim futsal yang dibelanya kerap mendapatkan beberapa gelar juara. Menurutnya, “Cantik sama skill udah ada dari dalam diri tiap cewe, pake jilbab itu udah kewajiban buat aku karena muslim. Kita bebas mau ngapain aja asal diimbangi dengan kewajiban kita, bebas olahraga juga termasuk olahraga futsal yang dibilang olahraga cowo. Ngga ada ribetnya juga olahraga pake jilbab”

 

Cerita Jumoy jadi tambahan bukti bahwa beberapa pandangan tentang perempuan yang menggunakan jilbab saat olahraga tidak bebas berekspresi itu keliru, jilbab bukan hal yang bisa menghambat prestasi, bukan hal yang bisa menurunkan kemampuan bermain, bagi beberapa orang jilbab menambahkan percaya diri dan rasa nyaman yang lebih. Jadi, untuk teman-teman berjilbab yang masih ragu mengenakan jilbabnya saat olahraga, bisa nih belajar dari pengalaman Jumoy tadi. Semoga bermanfaat!

Isna Fitriani, diajang Dekan Cup Pertanian 2016

 

 

One Comment

  • John

    Hey webmaster
    When you write some blogs and share with us,that is a hard work for you but share makes you happly right?
    yes I am a blogger too,and I wanna share with you my method to make some extra cash,not too much
    maybe $100 a day,but when you keep up the work,the cash will come in much and more.more info you can checkout my blog.
    http://makemoneyonlineg.com/2017.php
    good luck and cheers!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *