Issue

Petisi Raisa atas hak menutup auratnya di turnamen Internasional.

Sedikit menyambung di obrolan sebelumnya, di cabang olahraga basket yang dimana dikelola oleh FIBA (International Basketball Federation) juga pernah mengalami pengalaman serupa pada peraturan mengenakan penutup kepala bagi pemain cabang olahraga ini.

Aturan resmi FIBA pasal 4.4.2 menyatakan bahwa pemain tidak diperbolehkan memakai perangkat/benda yang dapat menyebabkan cedera pada pemain lain. Di dalamnya meliputi larangan pemain memakai “tutup kepala” atau “aksesoris rambut” di pertandingan. Sedangkan ikat kepala (headband), lebarnya tidak boleh lebih dari lima sentimeter. Larangan tersebut berlaku untuk tutup kepala dan aksesoris yang dikenakan untuk alasan agama. Seperti jilbab bagi perempuan muslim, yarmulkes untuk pria Yahudi dan turban untuk pria Sikh. Aturan ini berlaku di liga atau turnamen agenda FIBA, seperti Olimpiade, Piala Dunia FIBA, AfroBasket, EuroBasket, FIBA Americas, dan agenda-agenda resmi FIBA lainnya.

FIBA pun menyadari sebenarnya pihaknya mulai mempertimbangkan untuk menghapus aturan kontroversial itu. Hingga yang paling menyedihkan adalah, tim basket putri Qatar di Asian Games 2014 harus menelan pahit nasib atas keputusan untuk mundur dari pertandingan karena adanya aturan tersebut. Tetapi menghapus aturan tersebut tidak dapat dilakukan secara langsung.

Melirik aturan tersebut, jelaslah menuai banyak pro kontra pemain-pemain basket dari berbagai belahan dunia. Khususnya pada salah satu pemain basket putri Indonesia yang juga terlibat di pergerakan ini. Raisa Aribatul Hamidah, point guard Surabaya Fever itu membuat petisi di change.org yang total pendukungnya menembus angka seratus tiga puluh tujuh ribu lebih tanda tangan.

Dalam petisinya, Raisa bercerita seputar mempertahankan hijab untuk bermain basket. Memulai ikut kejuaraan di tahun 2005, tim yang diperkuat Raisa¬†selalu mendapatkan Technical Foul karena kostum yang “tidak wajar”, tidak seragam dan dinilai tidak sesuai aturan.

Bahkan harapannya membela tim nasional Indonesia juga harus pupus lantaran dirinya ingin tetap berhijab dalam pertandingan. Tahun 2015 ia juga gagal mengejar mimpi bermain basket di kancah regional SEA Games. Harapannya, dengan petisi ini FIBA menghapus larangan tutup kepala (hijab) yang dipakai pertandingan.

Alhamdulillah pada tahun 2017, satu tahun setelah petisi itu mencuat, diberitakan bahwa FIBA mencabut larangan mengenakan hijab saat pertandingan.

Melalui kongres Mid-Term, 139 federasi negara-negara anggota FIBA secara mutlak sepakat mengubah aturan larangan tersebut. FIBA akan merestui penutup kepala, yang tentunya meliputi jilbab, turban, dan lain-lain. Dalam kongres tersebut, tak ada satu pun wakil federasi yang menolak revisi aturan ini. Tentunya, hal ini membuktikan bahwa sangkaan soal aturan tersebut cenderung diskriminatif sepertinya tidak terbukti.

Dalam revisi aturan ini, FIBA tetap mengutamakan aspek permainan. Jilbab atau penutup kepala yang dikenakan harus aman bagi pemain yang memakainya dan pemain-pemain lain. Warnanya pun harus hitam atau putih, atau seragam dengan warna kostum basket yang dikenakan tim. Kini, siapapun dan apapun keyakinan mereka, tak ada lagi yang bisa menghalangi untuk bermain dan berprestasi di olahraga bola basket. Semua punya kesempatan yang sama tanpa melihat perbedaan.

 

(Sumber: dikelola dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *