Cerita

Wah, Ada Alien Lari!

“Kaya alien, tau! Lihatnya saja panas!” begitu komentar seorang teman saat kami sedang berjalan bersama dengan tempo sedang di jogging track kampus pada hari Minggu pagi yang cerah. Ya, kami sedang membicarakan tentang saya yang menutup seluruh tubuh rapat-rapat, kecuali muka dan telapak tangan, ketika berlari (jogging). Perbincangan ini akan sangat aneh dan bahkan sangat sensitif jika didengar oleh orang yang berpapasan dengan kami. Tidak mudah bagi orang-orang di sini untuk membahas tentang agama, tradisi, dan kepercayaan, apalagi menyindir atau mengingatkan orang lain. Tidak sopan, katanya. Untungnya kami sudah sangat dekat, jadi saya cuma cengengesan saja mendengarnya.

Dihari cerah lainnya, saya sedang asyik masyhuk lari di atas treadmill di ruang gym asrama. Hanya ada beberapa pemuda yang sedang mengangkat beban dan dua orang pemudi yang sedang mengayuh sepeda statis. Berhubung ruang gym ini bertembok kaca, kami bisa lari di atas treadmill sambil memandang jalanan luar yang menjadi lalu lintas aktivitas mahasiswa di asrama. Hampir setiap orang yang lewat di jalan itu selalu menghabiskan minimal lima detik (iya, serajin itulah saya sampai menghitung)! untuk memandangi saya dengan pandangan aneh dari kepala sampai kaki. Karena risih, saya mencoba mengalihkan pandangan ke pantulan kaca di tembok belakang ruangan. Ternyata orang-orang di situ juga sedang memandangi saya dengan tatapan sedikit datar atau kebingungan? Entah, saya lupa Tanya. Kalau saja saya iseng, pasti sudah bilang “Cilukbaaa! Ape lo liat-liat? Heran liat alien lari-lari?” sambal melet dan goyang pinggul.

Cobain Lari di Marina Bay.

Suatu hari, saya bangun pagi-pagi sekali untuk merealisasikan salah satu poin di daftar impian: lari di Marina Bay! Marina Bay adalah teluk buatan yang berada di pusat kota Singapura. Teluk ini dikelilingi oleh empat perimeter area rancangan pembangunan dengan luas wilayah 360 hektar. Kita bisa menemukan situs-situs khas Singapura dengan mengelilingi tempat ini, mulai dari Marina Bay Sands (hotel yang berbentuk kapal di lantai atasnya), Merlion Park, Esplanade (orang sini menyebutnya gedung durian karena atapnya mirip kulit durian, walaupun menurut saya wagu, sih), Art Science Museum, Jembatan Helix, dan Sirkuit Formula 1. Nah, untuk berkeliling mengitari teluk dan melewati situs-situs tersebut, kita harus menempuh rute lari sejauh 8-11 km. Pemandangan ala perkotaan modern yang bersih dan teratur sungguh memanjakan mata. Jika sedang beruntung, bukan tidak mungkin bagi kita untuk berpapasan dengan mas-mas ganteng yang juga sedang lari. Seru, bukan?

Lari Pake Pashmina? Siapa Takut!

Tak ada agenda lain di Marina Bay selain berlari, saya hanya membawa armband jogging pouch yang dipakai di lengan, beberapa lembar dollar di saku kanan, dan kunci asrama di saku kiri. Sialnya, butuh satu setengah jam perjalanan dari kampus ke Marina Bay dengan bus dan kereta. Terpaksa saya harus mempertimbangkan untuk tampil (lumayan) rapi, yakni dengan memakai pashmina. Bagi saya, lari memakai pashmina tak menjadi masalah karena sudah terbiasa. Namun bagi beberapa orang, hal itu merepotkan karena kita harus rutin membetulkan kerudung yang miring dan kabur kesana-kemari, belum lagi jarum pentul yang kemungkinan bisa terlepas. Saya pribadi lebih suka mencoba berbagai jenis model kerudung di berbagai kesempatan berlari agar lebih fleksibel saat sedang berpergian nanti. Kalau soal selera model kerudung, tinggal kenyamanan saja ya. Kalau sudah nyaman memang seharusnya segera diseriusin agar tidak lepas. Iya, kita masih bicara soal jarum pentul.

Uniknya, ketika saya sedang berlari, orang-orang di sana juga melihat saya seperti halnya alien. Bukan karena cara berpakaian yang salah, namun karena hari itu adalah hari Senin dan banyak orang yang berangkat menuju kantor. Saya berlari melawan arus datangnya pasukan ‘semut’ yang rapi memakai jas dan kemeja. Seru juga ya, bisa jogging sambil menertawakan pekerja.

Sebetulnya poin dari cerita-cerita di atas tidak erat kaitannya dengan visi dan misi artikel Cangkang yang kebanyakan menginspirasi itu. Namun, saya yakin pasti beberapa orang yang baca ini juga pernah mengalami hal yang sama. Baik di dalam maupun luar negeri. Bedanya, di luar negeri, khususnya di Singapura, jarang sekali ada orang yang menghampiri dan bilang, “Mbak, jilbabnya lebih diulur ke bawah biar tidak membentuk dada,” atau “Mbak, celananya jangan ketat-ketat nanti ngecap.” Bagi saya, komentar-komentar seperti ini lebih seram daripada dianggap alien di jalanan.

Tenang saja, tidak perlu bawa perasaan (baper) saat mendengarnya. Pakai pakaian yang nyaman dan sesuai kebutuhan. Mereka yang telalu baper, tidak tahu nikmatnya merasakan hormon endorphin pasca olahraga. Jadi, sudah olahraga belum?

 

Salam hangat dari pelari pagi di desa Jurong Barat,

Aninda Dewayanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *