Cerita

Lincah Menjadi Atlet Bela Diri Meski Salah Prinsip?

Brek! Brek!

Brek! Brek!

Priittt.

Bunyi peluit yang melengking ditiup oleh pelatih, sebagai tanda agar aku dan teman-teman segera berganti posisi dan langsung menendang pecing dengan kaki kiri.

Brek! Brek!

Tendanganku semakin melambat dan powerpun semakin berkurang.

“Ayo Dhiana, tambah powernya!!!” pelatih meneriakiku.

Aku yang merasa diteriaki, sedikit memicingkan mata melihat ekspresi wajah sang pelatih. Lalu aku berusaha mengamunisi power pada tendangan sabit kaki kiriku lagi.

Priittt.

Pelatih meniup peluit kembali, tanda boleh berhenti. Tendanganku terhenti dengan napas yang terengah-engah, keringat menetes dari ujung rambut yang tidak kuikat sama sekali. Rambutku panjang sebahu. Bisa dibayangkan, betapa risinya orang yang melihat seorang atlet pencak silat berlatih dengan rambut yang diurai. Mungkin sudah mirip rambut mak lampir yang kusut karena seminggu tidak disisir.

Kala itu aku masih duduk di bangku SMP. Berawal dari mengikuti ekskul olahraga pencak silat di sekolah hingga akhirnya mengikuti latihan di luar sekolah, bertemu dengan teman-teman sekolah lain dan dilatih oleh pelatih-pelatih senior dari sekolah lain pula,  merajut benang kekeluargaan yang sangat berkesan di bawah ikatan Tapak Suci Banjarnegara.

Kembali ke topik. Pada saat SMP aku memang belum memutuskan untuk berkerudung, namun aku juga tidak cukup percaya diri untuk mengikat rambutku ke belakang menjadi satu. Aku merasa tidak percaya diri karena bentuk wajahku yang bulat. Aku mengikat rambutku hanya ketika bersekolah saja, karena sudah tuntutan dari sekolah supaya siswa putri mengikat rambutnya menjadi dua. Jadi, ketika aku berlatih pencak silat kuputuskan untuk tidak mengikat rambutku. Pernah sesekali mengikat rambut ke belakang menjadi satu, namun ditertawai beberapa teman karena wajahku yang bulat seperti bakso.

Suatu hari ada beberapa teman yang mungkin sudah sangat risih ketika melihatku berlatih dengan rambut yang lebih mirip mak lampir ketimbang artis iklan shampo di Tv, Ia menyarankanku untuk memakai kerudung saja. Saat itu aku juga masih ragu, hingga akhirnya aku harus mengikuti latihan bersama di cabang Tapak Suci lain. Atlet-atlet putri Tapak Suci di cabang lain ternyata mengenakan kerudung semua, akhirnya aku memutuskan untuk berkerudung ketika berlatih. Lama-kelamaan akupun berpikir, bahwa Tapak Suci ini adalah perguruan pencak silat yang berinduk dari Muhammadiyah yang merupakan suatu organisasi islam, otomatis malu dong jika anggota Tapak Suci tapi tidak berkerudung? Pikirku saat itu dengan polosnya. Dengan prinsip yang salah, kuputuskan untuk berkerudung ketika berlatih dan bertanding saja. Padahal prinsip yang seharusnya ditanamkan di dalam diri adalah harus berkerudung karena rambut wanita adalah aurat. Begitulah pemahamanku.

Pada saat SMA lambat laun aku mulai malu dengan orang-orang yang mengenaliku, karena terkadang bertemu dengan orang yang kukenal ketika sedang berlatih di luar ruangan misalnya ketika berlatih di alun-alun kota. Aku mulai malu dengan keseharianku yang tanpa kerudung sedangkan aku sudah mulai terbiasa berlatih pencak silat menggunakan kerudung. Akhirnya kuputuskan saja untuk berkerudung disetiap kegiatanku dengan prinsip rambut adalah aurat wanita dalam agamaku dan Allah jelas-jelas memerintahkan umatNya untuk menutup aurat.

Sejak saat itu aku bisa membuktikan ke diriku sendiri bahwa ternyata wanita berkerudung tidak pernah terhalang untuk berolahraga, ternyata nyaman-nyaman saja berlatih dan bertanding pencak silat di gelanggang hijau muda dengan mengenakan kerudung. Justru sering kulihat pada saat pertandingan pencak silat, terdapat atlet putri yang rambutnya terjambak oleh lawan tandingnya. Mungkin beberapa orang berpikir bahwa kok bisa altlet-atlet pencak silat berkerudung itu tidak risih dan panas? Jawabanya ya kalian lihat saja pada atlet-atlet tersebut, buktinya mereka tetap bisa berlatih dan bertanding. Saya nyaman berkerudung karena sudah terbiasa dan Saya bisa terbiasa karena dibiasakan. Jadi, kalian bisa kok tetap berolahraga bela diri dengan tetap menaati perintah Allah, jika kalian muslim.

Salam olahraga!

Isna Widhiana

Banjarnegara, 27 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *