Cerita,  Tips

Mendaki, Salah Satu Cara Terapi Bersyukur.

Haloo! Okey saatnya nulis tentang perjalanan gunung. Aku sendiri jadi ”wanita gunung” waktu masuk kuliah semester 2, tepatnya tahun 2012. Semester 2 adalah semester babat gunung, kebayang kan tiap bulan ketika long weekend aku naik gunung terus. Januari ke Lawu, Februari ke Merapi, Maret ke Merbabu, April ke Sindoro, Mei ke Slamet, Juni ke Sumbing dan Juli ke Semeru. Itu aja ke Merapi tiga kali, Merbabu dua kali. Sempet berhenti ngegunung karena banyak praktikum. Lalu 2 tahun setelah itu aku kembali lagi, ke Rinjani.

Kok kamu demen banget sih naik gunung? Nggak capek apa? Apa sih yang kamu cari di gunung? Rasanya emang gabisa dijelasin pakai kata kata, menurut aku naik gunung itu cara menertawakan kesibukan aku yang banyak berkutat sama laptop dan hp. Aku di gunung paling hp buat foto doang, mana ada jaringan di gunung? Hahaha. Ada sih, kalau kamu bawa tower. Sisanya ketawa sama temen temen. Sisanya lagi, terapi bersyukur karena ngeliat awan di bawah kaki itu indah banget! itu cuma bonus, sisanya lagi bakal bikin nyadar kalau kita ini kecil. Ya, kecil dihadapan Sang Pencipta.

“Kamu kan cewek ? Bawa bawa tas gede itu apa nggak berat?” Beratlah, gila lo.

“Kalau mau pipis, gimana?” Jangan lupa Assalamualaikum.

“Makannya gimana? Masak apa?” Disini skill sebagai wanita diuji gimana mendapatkan rasa makanan yang enak dengan stock bahan yang ada. Ya… pinter pinter aja ngeracik.

“Gimana kalau kedinginan? Luka? Kram?” Disinilah kita harus belajar buat survive, list barang barang yang harus banget ada, terutama obat obatan, baju hangat, raincoat, kaos kaki, penutup telinga, dll (banyak sih kalau mau di list semua). Yang paling penting harus safety! Pakai sepatu gunung (jangan gegayaan pakai kets yang biasa dibuat main ke mall), tas gunung juga penting , meminimalisir banget buat tejadi sakit punggung dan pundak. Fisik pun harus siap, kalau udah naik atur pernapasan, pelan pelan aja, nikmati, intinya jangan banyak ngeluh, capek ya berhenti sebentar, haus ya minum, intinya jangan pernah nyerah, ya sama kaya kamu kalau punya  mimpi, kamu kejar aja, jangan pernah nyerah.

Sekarang banyak akun instagram atau facebook yang mengekspose kecantikan wanita indonesia yang demen naik gunung (aku ngga termasu haha), kita sebagai wanita emang boleh banget explore sana sini,  itung-itung buat olahraga. Yang aku lampirin disini adalah foto aku waktu di Rinjani. Terus gunung yang lain nggak ada fotonya? Hoax dong? Nggak, karena Rinjani adalah gunung pertama dimana aku pakai jilbab, beberapa gunung sebelumnya aku masih asyik dengan rambut berkibar dan celana pendek (celana sepaha, pliis jangan ditiru).  Dan yang aku sadari disini adalah pakai jilbab itu safety, bener bener ngelindungi rambut apalagi dengan trek Rinjani yang berdebu, juga ngelindungi pas dingin. Well, jilbab sama sekali nggak menghalangi buat gerak. Tips dari aku sih pilih jilbab yang nyaman, aku lebih memilih jilbab saudia segi empat. Jilbab jenis ini nyaman dan cepet kering, pakainya juga nggak ribet. Jangan aja pakai pasmina yang kita harus ribet ngelilit sana sini. Hahaha.

Apa sih yang perlu disiapin? Oke disini aku kasih beberapa tips :

  1. Fisik

Jangan naik gunung ketia sakit sedikitpun, aku pernah naik pas flu dan itu nyiksa bannget (plis yang ini juga jangan ditiru), selain daya tahan tubuh kita bakal drop karena capek jalan, kalau sakitnya makin parah inget aja di gunung nggak ada puskesmas.

  1. Obat-obatan

Aku selalu bawa betadine, kassa, plester luka, obat sakit kepala, obat sakit perut, paracetamol, obat flu, koyo, minyak kayu putih. Kalau balsem jangan ya, karena menurut aku kalau kulit kena angin gunung terus pakai balsem malah makin dingin.

  1. Makanan

Jangan bawa mie doang, tetep bawa beras, ya! Kalau bisa sekalian bawa sayur, sarden, nugget, dan bumbu bumbu lain yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Oh iya buat nambah tenaga, bawa madu atau gula merah juga bisa.

  1. Peralatan

Aku sendiri bawa yang bener bener safety kaya sepatu gunung. Menurut aku ini penting. Aku prefer pakai sepatu gunung yang panjangnya sampai mata kaki. Selain enteng buat naik, anti selip dan melindungi pergelangan kaki kita. Jaket gunung juga penting, gunung itu biasanya dingiiin jadi penting buat milih jaket. Usahakan yang waterproof dan dalemnya polar biar hangat. Raincoat gunung, sleeping bag, matras, sarung tangan, dan lainnya juga harus disiapkan.

  1. Baca dulu

Banyak banget catatan perjalanan yang berterbangan di media sosial, kaskus maupun blog, biar tau trek dan kondisi gunungnya. Jadi jangan males buat baca biar kita tau akomodasi kesana pakai apa, estimasi waktu buat naik, dimana ada sumber air, dimana kita bisa ngecamp. Nggak mau kan nyasar digunung atau persiapan nggak pas gara-gara kita nggak tau kondisi gunungnya kayak apa? Lebih aman naik kalau ada temen yang udah biasa naik gunung atau udah pernah naik gunung itu sebelumnya.

  1. Doa

Ini adalah point paling penting. Kita nggak pernah tau apa yang bakal terjadi di gunung, intinya tiap langkah kalau bisa kita doa biar selamat. Pasrahkan semua pada Tuhan, insyaAllah semua lancar. Inget ya, tujuan naik gunung itu bukan puncak, tapi bagaimana kita pulang ke rumah dengan selamat.

So guys, go get crazy, go explore, Indonesia terlalu sayang kalau kita sia siain.

 

With love

@ophikartika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *