Issue

Mengulas Karya Pramoedya, Panggil Aku Kartini Saja

______
through belles-letters, she vocalized inequalities with only Dutch, papers, and trenails as her instruments. Seclusion never stop her, apprehension and restlessness lead her to the highest pride of woman.
and Pramodya, compiled hers with such a perfect rhymes. I thank to God for this two out of bonds literati. 
______
Panggil Aku Kartini Saja, 1962.
Terlepas dari beliau adalah salah satu pahlawan yang harus aku hafal wajahnya karena mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial saat duduk dikelas 4, tidak lain karena tanggal lahirku sama dengan beliau yaitu 21 April. Itulah sebabnya nama Kartini begitu lekat denganku.
Mulanya, hanya kutau namanya adalah R.A Kartini tanpa tahu apa kepanjangan R.A, apalagi sampai tahu bahwa itu adalah gelar masa depan puteri bangsawan Jawa; menjadi Raden Ajeng.
Kartini kecil tumbuh dengan banyak tanda tanya, penuh kata mengapa di kepalanya. Mempunyai dua ibu, ibu tua dan ibunya. Ibu tua adalah ibu kandungnya, yang sama sekali tidak  mampu ia ceritakan pada khalayak karena beliau tak lain istri kedua Ayahnya, sebut saja selir. Kartini tumbuh dengan satu Kang Mas, dan beberapa saudara tirinya.
Kartini remaja mulai memasuki masa kelam, ia harus menjalani pingitan; sesuai adat perempuan jawa. Tanpa pendidikan layak, tanpa pergaulan, tanpa pengetahuan. Kartini melawan, ia membaca banyak buku, belajar bahasa Belanda, ia ingin menjadi perempuan jawa yang berilmu. Kartini menyuarakan semua ketidaksesuaian kehidupannya kepada sahabat penanya, Estelle Zeehandelaar.
Semakin lama kemampuan menulis dan cara berpikirnya semakin tajam dan membuatnya menjadi penulis perempuan pribumi yang menulis bahasa belanda, bukan Melayu-Jawa. Bukan tanpa alasan Kartini menggunakan bahasa belanda, tidak lain ia memang membangun lingkup pembacanya adalah kaum bangsawan dan orang belanda; agar mereka tahu kehidupan Rakyat Jawa beserta keluhannya.
Namun tetap saja, Kartini adalah perempuan Jawa dimasa itu, yang tidak bisa bebas sebelum menikah kemudian menjanda jika ingin bebas. Kartini masih ditangan kuasa Ayahnya, bahkan setiap tulisannya, tiada akan diterbitkan di media tanpa melalui izin Ayahnya.
Kartini terkukung.
Hingga pernikahannya dengan Bupati Rembang, mempunyai anak, dan meninggal dunia, impian bebas seorang Kartini tidak tercapai. Hanya melalui tulisan-tulisannya kini, ia bebas.
dalam buku ini, dituliskan dengan kalimat-kalimat nan indah oleh Pramoedya Ananta Toer. Bagaimana bahasa-bahasa indah Kartini saat menuliskan kegundahannya, bagaimana barisan kata seorang Kartini saat mengungkapkan protes pada Ayahnya.
Melalui karya ini, kita bisa membayangkan sebegitu cerdas tata kata baik Kartini ataupun Pramoedya.
Melalui karya ini, kita belajar banyak bahwa bahasa dan kemampuan menulis, bisa menjadi alat perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *