Cerita

Tentang pilihan.

Prolog tentang basket sepertinya akan sama di setiap tulisan. Moodboster, kesenangan, penurun kolesterol itu sudah pasti, hingga segala tentangnya bisa mengalahkan prioritas yang lain. Selebay ini, gilak! Padahal aku ngga jago. Main aja udah, kalau jago mah udah ditarik sama Sahabat Semarang. Hahaha.

Setelah lulus kuliah dan bekerja, kesenangan ini sering aku lakoni se-kepengen-nya. Kalau pulang kantor waktunya selow dan suasana mendukung, pasti ke lapangan. Kalau lagi mau goler-goler aja di kasur ya diem di kamar aja. Nah, karena waktu aku ke lapangan itu insidental banget, aku jadi sangat jarang rutin main bareng teman yang seangkatan, atau  minimal satu frekuensi lah. Jadi kalau pas lagi pengen main basket terus pergi ke lapangan tanpa spekulasi ada siapa aja yang main. Alhasil karena aku so independent (preett) jadilah ikut sana sini. Kadang ikut latihannya klub mana, kadang ikut latihannya sekolah mana… sampai mungkin saking cungkringnya saya, pas ikut latihan anak sekolah, ditanyain gini dong “kelas berapa, mba?”. Hahaha

Sempat lumayan lama mengidap pola seperti itu, tapi lama-lama bosan karena merasa ngga ada temen ngobrol. Iyadong, kita main basket aja sambil teriak-teriak koordinasi. Jadi sepi banget kalau main sendirian. Kecuali emang ke lapangan pas lagi galau (eh.)

Jadilah suatu saat pernah masuk grup line, isinya temen-temen SMA yang dulu 1 tim. Wahhh angin ribut banget dong buset ramenyaaaa! Sekali doang ikut main bareng, abis itu aku nya yang susah banyak waktu ngga bisanya. Suatu saat pernah DM temen karena liat story dia main sama yang senior-senior, tapi malem. Yaudah kan… minta banget pengen diajakin kalau mereka latihan. Eh, yang ada tiap jadwalnya diajakin, aku keburu tepar males keluar. Hehehe. Emang anaknya susah sejak lahir ini mah kayaknya, ya.

Jadilah aku tetap dengan pola melakoni kesenangan ini sesekali aja kalau pengen. Kalau semingguan pengen, ya bisa tuh seminggu pegang bola terus. Sampai suatu saat,

Waktu itu Senin sore, lupa tepatnya tanggal dan bulan apa. Aku  main ke lapangan Pemda yang ternyata lagi buat latihan anak-anak MAN 1 Banjarnegara. Seperti biasa, sok-sokan melipir dulu kan pemanasan sendiri. Kalau begitu ada sela bola nganggur atau lapangan kosong, diri ini masuk main-main sendiri. Terus di tengah aku  lagi freethrow, Mas Mara—pelatih MAN yang kebetulan kakak dari teman sekelasku dulu, nyeletuk teriak manggil “Tan! Kamu ikut timku aja yok”

“Tim apa, mas?”

“Exiton”

“Apa? Silitol?”

“Exiton!”

“Apakah itu?”

Jadi, dari hari itu aku  baru tau kalau di kota ini ternyata udah banyak klub bertebaran. Dari yang dulu jaman sekolah aku  ikut Bintang Muda, terus muncul ada tim Canbara, dan lain-lainnya. Nah Exiton ini salah satu klub dari sekian yang ada di Banjarnegara. Asing banget sih, serius. Orang-orang yang aku  kenal juga cuma Mas Mara dan Mega–adek tingkatku beda sekolah tapi dulu pernah bareng di POPDA Provinsi waktu SMP. Sisanya, benar-benar baru. Tapi yaudah tanpa ekspektasi apapun, apalagi karena diajak secara nyata untuk masuk tim, aku  sangat semangat mencoba. Lalu di minggu berikutnya sesuai jadwal, aku  ikut latihan.

Layaknya kamu masuk di lingkungan baru; asing, baru, dan kagok.Bedanya disini adalah, semua welcome, sama-sama main seneng, dan aku  ngga ngerasa tertindas. Oke, wait, kalimatnya kok rada sarkas. Hehehe. Tertindas di sini adalah, ngga ada yang jadi ngerasa minder karena lower than others, gituloh. Semua sama aja. Termasuk 95% dari pemain sama-sama pakai kerudung. Masya Allah.

Singkat cerita, bulan-bulan turnamen telah tiba. Seluruh klub yang ada bertandang tanding. Dua dari tiga seri yang sudah berjalan, aku  ikut berkontribusi. Siapa sangka? Lawan kita adalah klub-klub yang isinya temen-temenku semua. Hahaha. Ya yang dari klub dulu waktu sekolah ternyata sekarang eksis pol-polan, juga klub yang isinya senior-senior dimana aku  sebenarnya pernah diajakin latihan itu. Lucu aja sih. Sebenarnya bisa banget aku  ada di sisi mereka. Tapi yang ada sebaliknya. Terus gimana perasaannya?

Bersyukur.

Menjadi pelengkap di Exiton memang tidak pernah terbersit di pikiran. Tapi kembali ke klub terdahulu atau ikut klub baru lain juga sama aja ngga kepikiran. Karena bagiku, main basket ya main basket aja. Apalagi di kondisi yang sekarang waktunya rasanya gitu-gitu aja. Tidur-makan-kerja, tidur-makan-kerja, lanjut gitu terus. Jadi yaudah ngga ada ambisi yang menggebu lagi untuk—istilahnya—nyari menang atau eksis atau yang lainnya. Main ya main aja, senengnya dapet, efek setelah olahraganya dapet. Cukup. Tapi bukan berarti di sini aku seadanya, sih. Nanti ditampol mas-mas coach kalau ngomong gini. Hehehe. Tapi serius deh, dimanapun kamu berpijak, selama kamu enjoy dan lepas, pasti efeknya baik.

Jadi, setelah seri 2 turnamen kemarin semakin banyak yang nanya “kamu Bintang Muda, ya?” atau “Lho kok ngga ikut Old Star aja?” terus “Exiton tuh sama siapa aja sih?” aku  senyumin lebar. Sebenarnya semakin kesini sedikit banyak dapat alasan kenapa akhirnya aku  duduk di Exiton aja, ngga melirik yang lain. Pasalnya walau di klub lain banyak teman-teman sepermainan dulu, tapi kalau misal aku  di sana, belum tentu aku  berkembang mentalnya kayak sekarang. Karena aku  di Exiton dan kebetulan jadi yang tertua, partner satu tim bocah semua, tanpa disadari mereka jadi tempatku membuang ‘bocah’ yang ada di dalem diri. Jadi lepas, enjoy, tanpa beban.

Terlepas dari yang namanya dipilih untuk berkumpul di suatu perkumpulan juga disebut jodoh. Jodoh nggak ada yang tau, kan?

 

-Araminta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *