Cerita,  Issue

Body Shaming: Is it okay?

“Berapa sekarang beratnya? Gendut ya kayanya keturunan dari Mama-nya. Sayang banget wajah cantik tapi gendut.”

“si Sonia ya sekarang gendutnya ampun-ampunan, kaya bukan gadis perawan aja.”

“Perutnya buncit gitu, jangan-jangan kalo lo makan ikan bakar ntar itu ikan bisa berenang ya di dalem lambung. Gendut air kaya sapi gelonggongan.”

“Untungnya lo pinter. Kalo udah gendut, jelek begini ga pinter pula wah udah lu di bully selama sekolah.”

Begitu seterusnya yang aku dapatkan sejak dulu seakan-akan aku ini udah super overweight. Salah kalau kalian bayangkan ukuran badanku seperti atlet sumo dengan lemak bergelambir sana sini. Berat ku bahkan tidak mencapai 65 kg. Tapi mereka berkata begitu, seakan gendut itu menjadi dosa dan masih menjadi momok menyeramkan di masyarakat. Kalimat-kalimat setajam pisau itu wujud dari kepedulian katanya.

“Kita tuh bukannya mau mengkritik, kita tuh mau dukung lo sebelum lo kena penyakit karena kegendutan,” begitu katanya.

Membully si gendut sepertinya sudah menjadi kebiasaan dan sumber kebahagiaan. Bagi mereka dia yang gendut ya sudah sewajarnya selalu gendut dan selalu menjadi korban. Lucu katanya. Aku jadi bahan olok-olokan untuk menghibur orang lain dan mereka pikir itu lucu?Mereka terhibur, bahagia, stressnya hilang tapi aku tidak. Aku tak marah, sungguh aku tak marah dengan kalian. Tapi aku marah dengan diriku membiarkan mereka melakukannya berulang kali. Aku tak marah ketika harus tertawa sumbang dengan senyum dibuat sedemikian tulus atas basa-basi busuk atau sindiran kepedulian kalian.

“Mungkin mereka ga nyadar kalo itu body shaming”

“Yaudahlah, kalo gue marah-marah pun malah gue sendiri yang malu. Udah gendut, emosian pula. Kayanya diri gue isinya minus semua”

Ujar ku dalam hati, lagi dan lagi sampai suatu hari, datanglah beberapa temanku yang bertutur dengan sendu atas luka serupa denganku. Untuk kali ini, biarkan aku marah. Terserah apa kata orang nanti. Aku berang saat mendengar temanku menderita Bulumia dan harus terapi kejiwaan karena depresi selalu dikritik gendut. Emosi ku meluap-luap saat menjenguk temanku yang terpaksa rawat inap akibat diet berlebihan untuk langsing. Ingin rasanya ku layangkan tamparan kasar dan perih ke mereka si pembully, setimpal atas sayatan luka ku dan teman-teman ku si korban. Sayang, lagi-lagi aku diam, membiarkan emosi ku reda sendiri. Sudah ku bilang mereka itu mati hati, tamparan keras tak akan sanggup mengoyak hati dan otaknya untuk menghidupkannya kembali.

Lalu aku dan teman-teman ku bisa apa? Hanya memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan, hanya saja kami layak untuk sebuah kedamaian. Setelahnya, ku kumpulkan runtuhan keberanian untuk berdiri, mencoba tidak peduli. Ku pastikan nanti, jika aku memang harus diet dan menjadi langsing alasannya bukan dendam. Tapi karena aku mencintai diri ku sendiri. Aku mencintai fisik dan jiwa ku untuk menjadi lebih sehat lagi dan lagi. Manusia akan terus seperti itu, berkata ini itu dengan sadar atau tidak. Kita hanya perlu bahagia dan bersyukur. Jadi kalau kalian anggap tampilan fisik bisa dijadikan bahan cadaan atau bahan basa basi atau bahkan body shaming kalian benarkan sebagai bentuk kepedulian, kalian salah. Suatu hal yang percuma jika ku jawab “baik dan sehat” saat kalian menanyakan kabar. Namun setelahnya kalian keluarkan kritikan tajam menjatuhkan. Oh dear, berapa kali ku tekankan kalau body shaming itu bukan sebuah kritik membangun tetapi menjatuhkan? Aku bahkan lelah mengungkitnya. Maka kelak, jika kalian benar-benar peduli dengan ku, dukung aku sepenuh hati. Temani aku olahraga, ingatkan aku untuk berhenti mengonsumsi kopi dan makan makanan tinggi serat, ingatkan aku untuk lebih bersyukur lagi. Jika kalian benar-benar peduli, ubahlah ucapanmu dengan kalimat motivasi hangat. Dear ladies, no matter what they said about you “YOU’RE ENOUGH, YOU’RE BEAUTY AND YOU’RE WORTHY!”

“So, body shaming.. is it okay?”

it isn’t, it’s hurt….

 

(Sonia Dwi A.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *